Senin, 24 Juni 2013

Dua puluh satu tambah satu

Hai...
Ingin nulis apa ya?

Tik tok... It's been a long long time.
Saya masih disini. Di sebuah kotak kecil, tapi tetap dengan imajinasi 20x lipat lebih besar daripadanya, tapi sedikit banyak saya sudah berubah. Bukan lagi anak percintaan. Hahaha. It's not about I don't believe in love anymore -for sure, I only no longer believe if there's still a nice man around the world. Nah! Why should I? Am I a nice one? No.

Perubahan jelas ada.
Dari rambut panjang, pendek, lurus, ikal, poni kanan, poni kiri, nggak pake poni. Saya nggak pernah benar-benar dapat jawaban kenapa kita semua mesti berubah, terlebih ketika perubahan tersebut menyakitkan. Dapatkah kita benar-benar bertahan menjadi orang yang sama? Does the word 'forever' even ever exist in a real life? Ini kenapa jadi serius? Hahaha.

Dua puluh satu tahun -akan nambah satu tahun ini, saya punya dua puluh satu milyar cerita. Dari yang manisnya kayak red velvet yang bikin diabetes sampai pahit semacam ngunyah panadol nggak pake air. Dua puluh satu tahun saya sadar kalo saya nggak berdiri untuk jadi orang sukses, jadi orang pintar, jadi orang terkenal, tapi jadi orang yang belajar hidup. Dua puluh satu tahun, saya masih aja nggak normal. Masih.

Saya nggak bilang kalo saya ngerti hidup. Tua amat. Di dua puluh satu ini, saya cuma jadi lebih ngerti kalo "Eh gue udah beli sepeda fixie juga doooong." atau  "Ih nggak gaul abis deh loooo nggak nonton konser ini, nggak punya baju ini, nggak punya ini itu." cuma dua dari jutaan hal yang akan saya tertawakan sebagai sebuah kebodohan, nantinya. Pasti abis baca yang tadi, kamu langsung bilang saya mainstream, dulu atau sekarang sama saja. Iya emang mainstream. Emang kamu nggak mainstream? Bukannya orang-orang anti-mainstream juga sekarang mainstream ya? Tau ah.

Dua puluh satu, hidup saya masih aja ruwet kayak rute angkot di Bandung, tapi kisah cinta nggak kok, malahan lebih kayak Jakarta waktu kena traffic hour, semacet-macetnya, sejenuh-jenuhnya, semuanya direlain karena sesuatu yang baik. Yes yes, love can be so boring they said -well then it's not love I said.
The you would say what I feel is not a love? May God answer you. *ting* ;)

Waktu belasan, setengah mati saya ingin banget tau apa yang ada di pikiran dan hati orang-orang di sekitar saya. Iya, terutama dia, dia, dan dia, tapi di dua puluh satu, saya cuma bisa mewujudkan salah satunya. Pada akhirnya, kita semua dapat membaca pikiran orang-orang ini -meski sedikit, tapi entah gimana nggak pernah bisa membaca hati. Ya, selalu ada alasan kenapa Tuhan cuma menciptakan manusia pembaca pikiran, bukan pembaca hati. Eh, ini mah ujung-ujungnya ngomongin cinta.

Tuh. Saya jadi ngantuk.
Saya senyum keinget sesuatu, ya, seseorang :)

Dua puluh satu, I realize, trying so hard to, that sometimes or even many times, you just gotta accept that some people can only be in your heart, not in your life.
Tambah satu, to admit is a key. Kamu nggak akan pernah ngerti apa yang saya tulis, yang saya rasa, kenapa saya nulis ini.

Dua puluh satu, ada yang pernah bilang ke saya, "Jalan memutar bukan untuk menyesatkan, tapi untuk kita dapat menghargai arti dari sebuah tujuan.".
Tambah satu, I think that you can love people who aren't good for you too.

Dua puluh satu, I will sing: "Because the love that you lost, wasn't worth what it costs, and in time you'll be glad it's gone."

Dua puluh satu tambah satu, masih.
Masih.


:)

Minggu, 27 Mei 2012

M

"Dia memang bukan lelaki yang paling aku cintai dalam hidupku, atau malah bukan sama sekali, tetapi aku menikahinya. Mengapa? Karena aku yakin, aku selalu mendapat orang yang terbaik untuk hidupku, dan itu adalah dia."

-M

Sabtu, 16 April 2011

16 April 2011

Andai saya tahu kenapa saya menulis semua ini di malam ini…
Saya sendirian di sabtu malam ini. Ya saya sendiri. Disini cuma ada saya, hati saya yang kosong, tugas saya yang bertumpuk-tumpuk, dan kamu di pikiran saya. Kamu yang saya juga nggak tahu kenapa nggak pernah berkehendak untuk enyah dari sana. Kamu yang hanya saya dan Tuhan yang tau. Dramatisasi. Sebenarnya sudah banyak yang tahu. Saya rasa saya tidak pernah bisa bahagia sampai saya bertemu dengan kamu. Ya, kamu. Walau mungkin bertemu dengan saya bukan impian kamu… Tapi kamu impian saya! Dan saya sering membayangkan, berkhayal dalam diam. Menerawang jauh menembus masa depan yang tak bisa saya gambarkan. Saya dan kamu berjalan, berbeda arah, menggandeng tangan orang lain. Saya tersenyum, kamu juga. Kita sama-sama tahu, kita sudah mendapatkan yang terbaik untuk kita. Dan saya nggak akan pernah patah hati lagi karena kamu: melihat foto kamu, membaca tweet kamu, dan menduga pikiran dan hati kamu. Karena sesungguhnya semua sudah terbaca, meski kadang mata saya buta membaca semua itu —kadang malah bertingkah seperti saya tidak pernah membacanya.Ngomong-ngomong , tadi saya bilang kalau kamu itu impian saya? Saya nggak yakin, sebenarnya. Tapi saya rasa kamu itu satu dari (cuma) puluhan hal yang bisa membuat saya mau berlari mengejar sesuatu. Yang saya tahu, kamu cuma diam pas saya kejar, tapi anehnya saya nggak sama sekali bisa menjangkau kamu dari jarak yang sedekat itu. Kamu tahu rasanya? ANEH. Lucu, ketika mungkin kamu suatu saat membaca tulisan ini dan berpikir “Buat siapa ya, si Chaca nulis ini?”. Oh! Yaudahlah~ Tulisan ini lama-lama menyakiti. Tapi, saya benar-benar nggak tahu kenapa butuh jeda 1 jam untuk menulis kalimat terakhir ini: Nyatanya, hati memang tidak berpindah semudah itu. Nyatanya, saya sekarang tahu rasanya bagaimana mencintai seseorang hingga sesakit ini, sesesak ini -sesinting ini. Dan itu semua buat kamu. Kalau suatu hari kamu tahu tentang semua ini, berterima kasihlah! Karena untuk 19 tahun saya hidup, saya berharap ada orang yang mencintai saya seperti saya mencintai kamu, mematikan detak jantungnya seperti detak jantung saya yang mati karena berusaha mengucap nama kamu disaat semua temanmu tertawa, memandang ini sebuah lelucon dan berpikir bahwa kamu baik-baik saja dan… orang itu benar-benar ada. Nggak fiksi.

Sabtu, 24 Juli 2010

Gombal gagal

In his white car.

Gue: Ndro, kok diem aja sih? (muka jail)
Andro: Mau apa lu emangnya?
Gue: (mikir bego)
Andro: Anyway... Still you don't believe in miracle, do you?
Gue: I do
Andro: (noleh pelit)
Gue: (muka mancing)
Andro:You don't believe it
Gue: Gue percaya
Andro: Ngeh?
Gue: I even got it
Andro: If you tryna lying , I'd go with say that I didn't love you
Gue: I did that miracle
Andro: (muka nanya)
Gue: It was you (muka manis nahan cekikikan)
Andro: (diem, ga ada ekspresi)
Gue: Yah kok lo ga geer murahan gitu sih?
Andro: Manis sih
Gue: (bertanya: apa yg manis?)
Andro: Tapi ga semanis perasaan lo ke gue
Gue: Oh yeeeeeeeeeeeeeeeah -_-

Minggu, 04 Juli 2010

Di radio, Aku dengar...

Penutup sebuah siaran malam:

"Well you have to know. That's sweet, when there is someone who knows every detail about you. Not because you keep reminding on him, but because he pay attention"
Whether this is applies on real world?

Jakarta: Ketika Permak Levis menjadi Vermak Lepis

Beda orang, beda kondisi, beda situasi dan beda dalam menanggapi.

Orang : "Yaampun busway kok penuh banget? Ngga memuaskan nih pelayanannya"

Orang lainnya : "Alhamdulillah busway penuh gitu, akhirnya pada banyak yang milih naik angkot saya"

-----

Orang: "Ewww ini petugasnya kok banyak banget ya? Makan gaji buta banget sih"

Orang lainnya : "Petugasnya cuma segini ya, coba bandingin sama dulu, jauh lebih banyak jadi pelayanannya oke"

Orang lainnya : "Syukur deh pegawai ditambah, jadi kita ga cape cape banget"

Orang lainnya : "Haduh, pegawai nambah, pengeluaran gaji karyawan nambah"

-----

Orang : "Ih kok promo murah nya udahan sih? Kan kalo mau makan disitu jadi beli yang mahal lagi deh"

Orang lainnya : " Alhamdulillah promo nya udah abis, jadi store ngga terlalu rame, jadi bisa nafas sedikit"

-----

Orang : "Kenapa sih cowok gue mutusin gue? Gue sedih banget"

Orang lain : " Syukur deh mereka putus, mungkin ini saatnya gue ngungkapin perasaan gue"

-----

Orang : "Gila ya nih kampus! Belom apa-apa uang semesteran naik lagi, naik lagi! Korupsi banget tuh orang-orang rektorat!"

Orang lain : "Wah akhirnya ada tambahan dana juga untuk riset kita"

Orang lainnya : "Alhamdulillah gaji naik, walau cuma tukang potong rumput di taman kampus, jadi bisa tetap nyekolahin anak"

-----

Orang : "Gila kali ya pemerintah, jalanan Jakarta yang normal aja kalo udah traffic hour macetnya parah banget. Nah, ini mau ditambah bikin busway yang minta seperempat ruas jalan. Ga kebayang gue"

Orang lainnya : "Ih untung ya ada busway, kalo mau ngantor jadi lebih murah, cepat dan aman"

Orang lainnya : "Ah! gara-gara busway nih setoran gue tiap hari ngurang! Bisa bangkrut kalo kayak gini terus"

Orang lainnya : "Untung banget ada busway, biasanya kalo mau ke PIM (Pondok Indah Mall) naik taksi mahal banget, sekarang cuma bayar Rp3.500,- deh"

-----

Orang : "Wah parah banget pembajakan di Indonesia. Mereka (Pembajak) nggak mikir apa ya kalo yang mereka lakuin tuh ngerugiin negara banget"

Orang lainnya : "Wah penjualan album kita turun gara-gara banyak kaset bajakan. Ckckck"

Orang lainnya : "Untung ya ada kaset bajakan, kita kan jadi mampu beli dan tetep dengerin lagu/film yang kita suka. Kalo yang asli kan mahal banget, mending buat makan deh duitnya"

-----

Orang : "Yah mau nggak mau, daripada stok barang itu kebanyakan, lebih baik kita kasih diskon besar"

Orang lainnya : "Ih asik bangeeeeeeet! Lagi diskon gede gitu tas itu. Akhirnya kebeli juga"

Orang lainnya : "Ah shit! Apaan nih diskon? Tau gitu gue kemaren nggak beli, mana mahal, eh sekarang malah cuma setengah harga"

-----

Terbuka kah pikiran kalian?

Senin, 31 Mei 2010

Bukan salah turis, turisnya yang bukan


Ada kisah konyol, tragis dan menggelitik dibalik foto saya dan teman-teman saya diatas. Berlokasi di Pelabuhan Sunda Kelapa, Saya dan kedua teman saya, Pelangi dan Q, berniat untuk mencari spot yang bagus, dalam rangka tugas kuliah broadscasting nya si Pelangi. Tidak ada yang aneh, awalnya, sampai kami bertiga tiba didepan gerbang utama pelabuhan tersebut.

Bapak satpam: "Eh eh eh kam hir ser (come here, sir!)"
Saya dan kedua teman saya kebingungan.
Bapak satpam: (muka nya bingung juga) "Ser turis ya?"

Wah rasanya mau ketawa guling-gulingan saat itu juga. Saya ngga ngerti apa emang muka saya ada aksen jepang atau cina gitu, atau temen saya yang dimaksud, atau apalah. Pas kita ngomong bahasa Indonesia (yaiyalah muka melayu gini pak, duh!), bapaknya langsung ngga interest gitu, ngga jadi dapat duit katanya. Saya jadi keingetan iklan di televisi, yang ada abang-abang bilang "Sama turis harus baik, biar devisa negara kita ningkat". Haha tapi mungkin harus ditambahkan kata-katanya, baik sama turis yang mana dulu ...

Kamis, 27 Mei 2010

Kata adik

"Kakak harus belajar yang bener di UI nanti, ga boleh main-main, ga boleh males. Pokoknya harus jadi orang yang sukses"

"Wah tumben omongan kamu baik"

"Iyalah, nanti kalo kakak sukses kan kakak yang biayain sekolah aku"

(Wah gamang sendiri jadinya)


Percakapan iseng di pagi hari.
Saya dan Putri Amalia Kartikasari, usianya baru 7 tahun, tapi ucapannya selalu terdengar lebih tua 5 tahun.

Senin, 24 Mei 2010

I will never end up like your dream girl

"Mungkin aku sudah kehilangan kamu, sejak beberapa musim kemarin, sejak aku sadar, mata aku ga pernah bisa memandang ke ribuan mata yang lain, sejak aku sadar, aku bisa melihat kamu di tengah kerumunan ratusan orang berkostum sama, dan sejak aku mencoba menaruh hatiku pada orang lain, di hari yang sebelumnya, aku masih menulis nama kamu di buku harianku. aku sudah sangat terlambat. Kalau nanti Tuhan ngelahirin aku kembali, aku akan cari kamu lagi, karena aku tahu, kamu yang terbaik buat aku."


Di copy dari http://chca.deviantart.com/journal/

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang kita tahu

Apa ya?
Kisruh dalam dunia politik yang kian meruncing. Beberapa oknum yg mengaku sebagai atau mungkin memang begitu, mahasiswa datang menentang suatu hal yang marak saya dengar tentang 'lambatnya kinerja SBY'.
Di kiri terdengar dukung bibit chandra. Di kanan tersiar berita tentang sebuah restoran fastfood di Makassar di rusak oknum yang lagi-lagi, katanya adalah mahasiswa. Di dalam hati, apa yang dibela?
Hari ini hari korupsi. Saya ingat tadi pagi di putaran tugu tani ada seorang bapak polisi yang mengacungkan telunjuk dengan wajah beringas ke arah sebuah mobil yang nekat melintas. Saya jadi bertanya-tanya. Masa pagi-pagi pak polisi sudah cari 'mangsa'? Tapi pikiran jelek saya buyar seketika, kayak PSK yang kabur dikejar trantib.

'Oh maksudnya biar rombongan SATPOL PP yang berkacamata mahal dan bersiul menggoda saya terus itu bisa lewat duluan'
Ah saya jadi kebanyakan menggumam.

Sore hari, beribu desas desus dan berjuta asumsi terlontar di atas kaleng dengan roda yang berjalan. Ayo dibeli, kompas cenggoh, media indo serebu. Saya kurang tahu kenapa saya agak -sangat ingin mengecam setiap pembicaraan orang-orang. Kita menyebut Pak Presiden dengan julukan ES-BE-YE. Sungguh, saya jadi benar-benar berpikir apakah jabatan Presiden di negeri ini jadi sama atau bahkan tidak lebih penting dari jabatan seorang tukang sayur komplek rumah saya yang sering dipanggil Sarimin, padahal namanya Fahri. Haha. Ah lupakan. Merinding, dimana kita dengan entengnya menyebut nama julukan tersebut tanpa mengingat jabatan orang tersebut. Apakah rasa hormat sudah tidak ada lagi ? Apa kita harus kembali ke jaman dimana orang-orang yang melanggar pemerintah mati dengan gampangnya, cuma supaya kita hormat?

Saya bukan siapa-siapa dibanding kakak-kakak mahasiswa dengan almamater kuning, hijau, atau biru yang sering mejeng di tv itu. Dimana argumentasi bak kacang rebus. Dimana harapan memperbaiki negeri ini dituangkan secara demokratis, walaupun secara tidak sadar kita mungkin tidak berlaku demokratis terhadap orang yang kita hujat.
Maaf, saya merasa kecewa amat sangat. Kita bukan siapa-siapa, bukan berarti kita tidak berbuat apa-apa. Tapi bukan dengan cara yang irasional. Demo hari anti korupsi hari ini, bukan 'Bersihkan Negeri Ini Dari Korupsi' editorialnya, seharusnya, tetapi 'Apakah kita semua tidak pernah korupsi?'. Keinginan yang sangat luhur, memprotesi korupsi di negeri ini tapi malah jadi kayak mencoba menebang pohon yang akarnya sudah merembet kemana-mana dengan cuma sekali tebasan golok, ah besok juga tumbuh lagi.

Makassar punya cerita lain lagi, sebuah restoran fastfood kena amuk mahasiswa. Dimana relasi hal tersebut dengan kasus korupsi? Pernahkah berpikir, yang mati nanti pegawai dengan seragam tolol-nya, bukan yang pakai dasi-nya.

Coba tanya kembali ke hati nurani kita, kita ini tahu apa? Apa kita cuma mengejar emosi kita yang menempatkan kita sebagai boneka yang digerakkan oknum X untuk menjatuhkan oknum Y? Lambat bukan berarti tidak berpikir dan cepat tidak berarti selesai. Coba direnggangin dulu urat dilehernya, tatap jaket almamater kita, mau jadi apa bangsa kita kalau semua masalah berujung lempar batu? Apa tingkat korupsi-nya menurun? Jawab sendiri.


Di copy dari note facebook saya, 09 Desember 2009.